Menyapih Anak Umur Berapa? Kapan Waktu yang Tepat? Yuk, Simak!
13-11-2020

Ketika Si Buah Hati sudah memasuki usia 1 – 3 tahun, Bunda mungkin mulai mempertimbangkan menyapih. Menyapih adalah saat Si Buah Hati mulai lebih banyak mengonsumsi makanan keluarga sebagai sumber gizi dan energi, serta semakin mengurangi menyusu sampai akhirnya berhenti. Nah, kira-kira berapa lama proses menyapih anak?
Mengingat tahap perkembangan anak bisa berbeda-beda, proses dan cara menyapih Si Buah Hati tidak selalu sama dan tidak dapat dipaksakan seperti anak-anak seusianya, waktu yang dibutuhkan untuk tahap menyapih anak dan proses menyapih anak tentu berbeda pula.
Berapa Lama Proses Menyapih Anak dan Kapan Waktu yang Tepat?
WHO dan UNICEF menganjurkan para ibu untuk menyusui dan memberikan ASI eksklusif kepada Buah Hati-nya sampai usia enam bulan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian MPASI dengan tetap melanjutkan pemberian ASI sampai usia dua tahun atau lebih.
Namun karena alasan dan pertimbangan tertentu, mungkin Bunda memilih menyapih Si Buah Hati setelah ia berusia satu tahun.
Apa pun terkait waktu saat menyapih yang Bunda pilih, Bunda bisa berkonsultasi dengan konsultan laktasi untuk cara menyapih yang benar. Jika Bunda memilih untuk menyapih karena sudah saatnya, maka Bunda bisa menanyakan kepada konsultan laktasi tentang proses menyapih anak dan berapa lama proses menyapih anak serta apa saja yang perlu dilakukan dan dipersiapkan untuk menyapih.
Persiapan Menyapih Si Buah Hati
Sebelum menentukan waktu yang tepat untuk menyapih anak, berikut ini adalah beberapa tanda yang perlu di cek:
Dapat duduk dan berdiri dengan tegak.
Sudah bisa berjalan dan bergerak makin aktif.
Sudah minum menggunakan cangkir.
Minat menyusu mulai berkurang; ditandai dengan waktu menyusu yang lebih pendek serta lebih sering memainkan puting payudara Bunda dibandingkan menyusu.
Selain memperhatikan kesiapan Si Buah Hati, Bunda juga perlu memastikan asupan gizinya sudah seimbang dan tercukupi lewat makanan keluarga. Bunda disarankan memberikan aneka menu keluarga dengan kandungan gizi yang seimbang dan bervariasi.
Walaupun Si Buah Hati sebenarnya sudah siap, tapi para ahli perkembangan anak bisa menganjurkan agar Bunda menunda dulu untuk menyapih dengan alasan sebagai berikut:
Si Buah Hati atau Bunda sedang sakit
Menyapih akan lebih mudah dan lancar jika baik Bunda dan Si Buah Hati berada dan kondisi yang sehat. Karena itu, sebaiknya tunda dulu menyapih jika salah satunya sedang sakit sampai sudah sembuh.
Ada riwayat alergi di keluarga
Hasil penelitian menunjukkan bahwa memapar Si Buah Hati dengan faktor-faktor pencetus alergi saat ia masih menyusu akan mengurangi risiko ia menderita alergi. Sebaiknya Bunda berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter anak mengenai hal ini.
Ada perubahan besar yang terjadi
Misalnya saja satu keluarga pindah rumah karena Ayah ditugaskan di kota lain, atau Bunda memutuskan untuk kembali bekerja di kantor, maka Bunda bisa menunda dulu untuk menyapih.
Tips Menyapih Si Buah Hati
Jika waktu yang tepat untuk menyapih anak sudah tiba, maka Bunda bisa memulai proses menyapih. Beberapa tips yang diberikan berkaitan dengan menyapih Si Buah Hati adalah:
Lakukan secara bertahap
Misalnya, mengurangi satu waktu menyusui dalam sehari, biasanya waktu menyusui tengah hari, lalu menjadi dua waktu dan seterusnya. Mengurangi menyusui secara bertahap juga membantu tubuh Bunda melakukan penyesuaian sehingga jumlah ASI di payudara juga semakin lama semakin berkurang.
Ganti cara minum susu
Misalnya dengan mengganti aktivitas menyusui dengan minum susu pertumbuhan menggunakan cangkir. Biasanya Si Buah hati berusia toddler akan lebih tertarik untuk minum susu di dalam cangkir daripada menyusu.
Alihkan perhatiannya
Bunda bisa mengalihkan perhatian Si Buah Hati dari menyusu dengan mengajaknya bermain atau melakukan aktivitas lain pada waktu-waktu ia biasa menyusu. Bisa juga Bunda menghilang pada saat waktu menyusu dan meninggalkannya dijaga dan beraktivitas bersama Ayahnya, pengasuhnya, atau anggota keluarga lainnya.
Batasi akses bagi anak
Hindari membuka dan mengenakan pakaian saat ada Si Buah Hati. Selain itu, kenakan pakaian yang membuat akses Si Buah Hati ke payudara menjadi lebih sulit. Ini bisa dilakukan sebagai cara menyapih anak yang susah.
Sesekali penuhi keinginannya
Jika Si Buah Hati sangat ingin menyusu sampai menangis, maka Bunda bisa memenuhi keinginannya. Karena jika dilarang, ia malah akan semakin fokus ke keinginannya menyusu dan menjadi semakin rewel. Setelah itu, alihkan perhatiannya dengan hal- hal lain.
Baca Juga: Kenapa Anak Susah Disapih? Simak di Sini!
Efek Emosional setelah Proses Penyapihan
Proses menyapih anak tentu akan menimbulkan efek emosional. Proses menyapih bisa saja mengurangi bonding Bunda dan anak, terutama jika proses penyapihan dimulai saat anak berusia kurang dari enam bulan . Penelitian juga membuktikan bahwa penyapihan yang dilakukan terlalu awal bisa membuat anak mengalami peningkatan rasa cemas dan agresi. Untuk mengatasi hal tersebut, Bunda perlu melakukan proses penyapihan secara bertahap agar anak tidak kaget dengan perubahan yang terjadi.
Efek emosional bukan hanya bisa dirasakan oleh si Buah Hati, tapi juga oleh Bunda. Beberapa penelitian menunjukkan terjadinya depresi pasca menyapih dapat terjadi pada Bunda. Untuk itu, dalam proses menyapih pastikan Bunda maupun si Buah Hati sudah siap, ya!
Efek Kesehatan Anak Setelah Proses Penyapihan
ASI adalah makanan terbaik untuk 1000 hari pertama kehidupannya. Setelah proses penyapihan, Bunda perlu memperhatikan asupan gizi Si Buah Hati dengan memberikan makanan bergizi. Bunda perlu memberikan Si Buah Hati makanan padat kalori dan cukup protein adalah penting, dan tinggi kandungan vitamin A dan D, zat besi, dan seng harus ditekankan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa proses menyapih juga bisa berdampak pada status gizi anak, yang tentunya juga berpengaruh pada kondisi kesehatan mereka. Ketika anak kekurangan gizi, mereka bisa rentan terkena penyakit.
Menyapih anak terlalu dini atau terlambat sama-sama bisa memicu malnutrisi. Jadi, Bunda perlu menentukan waktu yang tepat ketika menyapih Si Buah Hati. Teknik menyapih yang tidak efektif juga bisa berdampak sama. Pada akhirnya, hal ini akan berdampak buruk pada perkembangan kognitif dan sosial, kinerja sekolah, dan produktivitas di kemudian hari. Untuk mengatasi hal ini, Bunda perlu mengetahui kapan waktu menyapih yang tepat untuk anak serta pola makan yang baik untuk Si Buah Hati selama dan proses penyapihan.
Selain memperhatikan berapa lama proses menyapih anak, Bunda juga perlu memperhatikan kebutuhan gizi mereka agar tetap seimbang dan tercukupi setelah Bunda sapih.
Hal yang terpenting adalah Bunda dapat memastikan bahwa masa penyapihan berlangsung nyaman bagi Si Buah Hati dan kebutuhan gizinya dapat terpenuhi.