Pola Asuh Controlling dan Punishment Sebaiknya Tidak Diberlakukan Lagi
14-11-2020

Bunda tentu punya pengalaman mengenai bagaimana orang tua zaman dahulu melakukan pengasuhan dengan metode controlling dan punishment. Kini, Bunda sebagai orang tua millenial mungkin tidak melakukannya lagi, karena Bunda punya cara sendiri untuk menerapkan kedisiplinan pada Si Buah Hati.
Ada beberapa dampak buruk yang bisa diterima Si Buah Hati dengan pola asuh yang menitikberatkan controlling dan punishment. “Anak tidak belajar melakukan sesuatu berdasarkan dorongan dirinya sendiri tapi lebih karena faktor eksternal seperti ancaman orang tua,” kata psikolog, Anastasia Satriyo, M.Psi.
Jika seperti itu, Si Buah Hati berarti tidak mampu mengelola dirinya secara emosi. Ia juga sulit menjadi anak yang mandiri baik dalam pikiran, perkataan, serta tindakannya. Hal ini disebabkan anak bergantung banyak pada panduan dari hal-hal di luar dirinya. Anak juga jadi sangat dipengaruhi oleh pandangan lingkungan sekitarnya.
Bagaimana dengan hukuman fisik? Menurut Anastasia, “Memberikan hukuman fisik pada anak berarti pada hakikatnya tidak menghargai tubuh sebagai bagian dari diri anak yang harus dihormati sebagai manusia,” tambahnya.
Ketika Si Buah Hati punya pengalaman tidak dihargai, kemungkinan anak juga tidak bisa menghargai orang lain. Meskipun demikian, pada kenyataannya memang ada beberapa orang yang justru ketika mengalami hukuman fisik bisa mengelola dirinya sehingga mampu meregulasi diri dengan baik. Namun, tidak semua anak akan memunculkan respons seperti itu karena hukuman fisik cenderung membuat anak terluka baik secara psikologis maupun emosi.
Luka tersebut mungkin tidak terlihat secara kasat mata, tetapi efeknya sangat dalam dan lama bahkan sampai usia dewasa. Pada situasi-situasi tertentu penuh tekanan di masa dewasa, biasanya dampak luka tersebut akan muncul ke permukaan. Misalnya, saat anak sudah bekerja, ia jadi takut berlebihan pada sosok otoriter di tempat kerjanya, karena teringat tekanan yang diterapkan orangtuanya.
Hukuman fisik yang tidak disengaja atau refleks juga menjadi gambaran bagi anak bahwa orang tuanya sebagai orang dewasa belum memiliki kemampuan dalam mengelola emosi. “Percayalah bahwa anak adalah cerminan orang tua. Semakin orang tuanya berkembang dan menjadi pribadi yang semakin baik, maka anak juga menjadi lebih menyenangkan perilakunya,” ujar Anastasia.
Sebetulnya, dengan pendekatan komunikasi yang tepat, anak bisa lebih mudah diatur dan diberi konsekuensi jika melanggar aturan yang disepakati. Para Bunda milenial biasanya sudah menyadari bahwa di usia emas satu hingga lima tahun, Si Buah Hati membutuhkan pola asuh positif. Lalu, bagaimana cara membangun disiplin pada diri anak tanpa harus menerapkan aturan yang keras?
Menurut Anastasia, disiplin pada anak sebenarnya akan terbangun dengan sendirinya melalui kebiasaan baik secara teratur dan konsisten “Disiplin dimulai dari kita melakukan kebiasaan yang baik bersama anak sehingga lama-lama disiplin menjadi bagian dari anak itu sendiri,” tambah Anastasia.
Caranya, ciptakan dan terapkan jadwal kegiatan Si Buah Hati di rumah secara konsisten. Dimulai dari jadwal makan dan minum susu, mandi, main di taman, tidur siang, tidur malam, dan lainnya. Selain itu, Bunda juga perlu menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya, seperti memberi salam ketika masuk rumah, menggosok gigi sebelum tidur, mencuci tangan sebelum makan, dan menggunakan kata-kata yang baik saat bicara. Untuk mengawali proses disiplin, contoh dan pembiasaan dari orang tua sangatlah penting, karena anak belajar berperilaku dengan melihat contoh di sekelilingnya, terutama Bunda dan Ayahnya.
Bunda yuk baca juga artikel tentang pola asuh lainnya di artikel “Pola Asuh Anak: Cara Berbicara yang Baik untuk Si Buah Hati yang Bicara Kasar"